BIONESIA dan FMIPA Undiksha Gelar Workshop Analisis Genetik untuk Mendukung Konservasi Penyu
Singaraja, 30 September 2026 — Yayasan Biodiversitas Indonesia (BIONESIA) bekerjasama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pendidikan Ganesha menyelenggarakan Workshop Koleksi Sampel dan Analisis Genetik Penyu dan Produk Turunannya di Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK) pada 29–30 September 2026. Kegiatan yang didukung melalui program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA) ini dilaksanakan selama dua hari di FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas dalam konservasi penyu, khususnya melalui penerapan pendekatan genetika untuk memahami hubungan antarpopulasi, mengidentifikasi spesies, serta menelusuri asal-usul penyu dan produk turunannya. Bentang Laut Sunda Kecil merupakan salah satu kawasan penting di Coral Triangle yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi wilayah penting bagi pergerakan serta migrasi berbagai biota laut, termasuk penyu. Karena sifat migrasinya yang melintasi wilayah bahkan negara, konservasi penyu membutuhkan data ilmiah yang mampu menggambarkan konektivitas antarpopulasi. Data genetik menjadi salah satu sumber informasi penting untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Hari Pertama: Konservasi Genetik dan Teknik Koleksi Sampel Penyu
Kegiatan hari pertama, Selasa, 29 September 2026, berlangsung di Ruang Seminar FMIPA Undiksha dengan tema Teknik Pengambilan Sampel Genetik dan Pengelolaan Penangkaran Penyu. Kegiatan diawali dengan registrasi peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan dan pembukaan, serta dilanjutkan dengan berbagai sesi pemaparan materi.
Materi pertama mengenai konservasi genetik penyu disampaikan oleh Michael Jensen dari WWF Coral Triangle. Selanjutnya, Andrianus Sembiring dari BIONESIA memaparkan program peningkatan kapasitas dan konservasi penyu di Bentang Laut Sunda Kecil melalui program TFCCA. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai studi kasus genetic forensics pada penyu dan produk turunannya yang diperdagangkan di Bali, serta prosedur pengelolaan penangkaran penyu yang disampaikan oleh Ranny Yuneni dari WWF Indonesia. Dalam kegiatan ini, WWF berkontribusi sebagai narasumber dengan memberikan perspektif keilmuan dan pengalaman praktis dalam bidang konservasi penyu.
Sesi berikutnya membahas teknik koleksi dan penanganan sampel genetik penyu yang disampaikan oleh Candra Apriliani dari BIONESIA. Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik koleksi sampel genetik penyu yang melibatkan tim BIONESIA dan Undiksha. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai prosedur koleksi sampel yang tepat, aman, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung pengembangan basis data genetik penyu. Hari pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab bersama narasumber.
Hari Kedua: Praktik Analisis Genetik di Laboratorium
Pada hari kedua, Rabu, 30 September 2026, kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Riset Terpadu FMIPA Undiksha dengan tema Dasar Analisis Genetik dan Praktik Laboratorium. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan pengetahuan sekaligus keterampilan teknis peserta dalam melakukan analisis genetika molekuler.
Kegiatan diawali dengan overview alur praktik laboratorium oleh Andrianus Sembiring dari BIONESIA. Materi selanjutnya meliputi handling, sampling, dan preparasi sampel genetik yang disampaikan oleh Dian Pertiwi dari Undiksha, ekstraksi DNA oleh Candra Apriliani dari BIONESIA, PCR oleh Rossa Savitri dari BIONESIA, serta elektroforesis dan sequencing oleh Astria Yusmalinda dari BIONESIA.
Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti kegiatan hands-on yang meliputi preparasi dan penanganan sampel, ekstraksi DNA, PCR, serta elektroforesis. Peserta kemudian diperkenalkan pada data sekuens hasil analisis, dilanjutkan dengan analisis BLAST dan interpretasi hasil. Sesi praktik memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami alur analisis genetik mulai dari penanganan sampel hingga interpretasi data molekuler.
Workshop selama dua hari berlangsung dengan lancar dan memperoleh partisipasi aktif dari berbagai pihak, baik akademisi, mahasiswa, lembaga konservasi, maupun kelompok masyarakat yang bergerak dalam konservasi penyu. Peserta dan undangan berasal dari FMIPA Undiksha, BIONESIA, serta sejumlah organisasi dan kelompok konservasi penyu di Bali. Perwakilan WWF turut berkontribusi sebagai narasumber dalam memperkaya perspektif peserta mengenai konservasi penyu, baik pada skala regional maupun pengelolaan konservasi di lapangan.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya pemanfaatan data genetik dalam mendukung konservasi penyu sekaligus memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan koleksi, penanganan, dan analisis sampel secara terstandar. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, praktisi, dan kelompok masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam upaya pelestarian penyu. Ke depan, BIONESIA berharap kolaborasi dengan FMIPA Undiksha serta jejaring para ahli, praktisi, dan lembaga konservasi dapat terus diperkuat dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian penyu di Bali serta kawasan Bentang Laut Sunda Kecil. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat berkembang melalui riset bersama, penguatan basis data genetik, peningkatan kapasitas laboratorium, serta berbagai program konservasi berbasis ilmiah yang berkelanjutan.




